Belajar Memahami Jiwa

Saya baru menyelesaikan 4 minggu rotasi di departemen ilmu kesehatan jiwa (psikiatri). Satu kata yang saya punya untuk ilmu yang satu ini: fascinating. Menakjubkan betapa manusia bisa mengalami deteriorasi yang dramatis karena gangguan di otak. Gangguan yang tidak tampak secara kasat mata pula. Lebih menakjubkan lagi ketika obat-obatan dan terapi lainnya bisa mengangkat manusia dari penderitaan itu., enderitaan akibat neraka yang muncul dari dalam pikirannya sendiri.

Psikiatri itu (ternyata) sulit

Bukan berarti saya mengasumsikan psikiatri itu lebih mudah dari yang lainnya. Setiap rotasi pasti sulit dalam hal tertentu, dan kita akan menemukan hal tertentu itu setelah kita menjalaninya.

Secara fisik, beban kerja di rotasi psikiatri memang tidak sebanding dengan rotasi-rotasi besar seperti ilmu kebidanan atau bedah, tapi menangani pasien psikiatri membutuhkan daya tahan yang luar biasa.

Mendengarkan pasien dengan seksama, mengingat apa yang ia katakan, mengatur kata-kata secara hati-hati agar bisa mendapatkan kepercayaan pasien, menjaga sikap, semuanya dilakukan sambil memformulasikan diagnosis dan memikirkan tata laksana yang akan diberikan.

Obat-obatan psikiatri diberikan dengan penuh pertimbangan, seperti efek samping yang mungkin terjadi dan dosis seberapa yang harus diberikan, ditentukan dari keadaan pasien secara subjektif. Saat saya belajar di poli, menangani dua pasien dalam satu hari saja sudah membuat saya merasa lelah secara emosional. Saya jadi semakin kagum sama konsulen-konsulen psikiatri saya.

freud_and_chaplin_image2
Sigmund Freud, bapak psikoanalisis, mencoba memahami Charlie Chaplin. [sumber]

Kesadaran masyarakat sangat perlu ditingkatkan

Sayang sekali penyakit jiwa masih mempunyai konotasi negatif di kalangan masyarakat indonesia. Mereka yang sakit jiwa seringkali dianggap ‘gila’ dan bukannya diobati, malah diasingkan (dipasung malah). Sulit mengubah pandangan lama bahwa perilaku tidak lazim orang tersebut diakibatkan oleh gangguan pada otak. Mungkin dengan majunya pendidikan negara ini perlahan-lahan, stigma mengenai penyakit jiwa bisa memudar. Saat memberikan penyuluhan di puskesmas dan panti sosial di rotasi ini, saya mengamati awareness masyarakat mengenai penyakit jiwa masih kurang. Masih banyak yang belum pernah mendengar kata skizofrenia, misalnya. Tapi setelah penyuluhan, para pengunjung mendengarkan dengan cukup seksama dan bersikap terbuka atas informasi yang kami berikan. melihat respons ini, saya jadi percaya jika kampanye kesehatan jiwa lebih digalakkan, deteksi dini akan berjalan lebih baik dan masyarakat yang sehat jiwanya akan meningkat. dengan kesehatan jiwa tersebut, ia dapat memanfaatkan hidupnya dengan maksimal.

Pendidikan kepanitraan di FKUI memberikan kami kesempatan untuk membawakan penyuluhan terkait penyakit jiwa. Kelompok saya kebetulan mendapat giliran memberi penyuluhan di puskesmas dan sebuah panti sosial perlindungan. Di sana kami bersentuhan dengan masyarakat secara langsung, dan saya benar-benar tersentuh ketika berhadapan dengan warga panti sosial yang tidak punya tempat tinggal dan mengalami penyakit jiwa. Di sana kami menerangkan apa itu skizofrenia dan bagaimana kita bisa membantu orang dengan skizofrenia (disingkat ODS) mencapai remisi atau recovery, misalnya dengan menjadi teman bagi mereka, bukannya menjauhkan diri dari mereka.

Foto ketika memberikan penyuluhan di Puskesmas Kecamatan Kemayoran dan Panti Perlindungan Bakti Kasih. Oh ya, itu posternya saya yang buat. Hehe…

Belajar dari pasien

Meskipun sulit, psikiatri mengajarkan saya sesuatu yang penting: bahwa di balik gelapnya keputusasaan selalu ada harapan. Dan semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Di poliklinik, saya menemui pasien skizofrenia yang telah mengalami perbaikan. Ia berbincang-bincang dengan dokternya, menceritakan bagaimana kondisinya sudah berubah jauh. Tadinya dia benar-benar hilang dalam halusinasinya, tidak dapat berbicara seolah nyawanya sedang berada di tempat lain. Semua ini berkat ia menjalani terapi secara rutin.

Ada lagi pasien dengan gangguan bipolar.

 

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s