Where Europe Begins

Seminggu yang lalu POST Pasar Santa (sebuah toko buku indie di Jakarta yang hipster dan asyik) memperkenalkan buku-buku sastra Jepang non-mainstream yang mereka kurasi. Saat aku sampai di sana, buku-buku yang terjual sudah tinggal sedikit. Pilihanku tinggal Where Europe Begins, Naomi, dan… beberapa buku lainnya yang judulnya aku tidak ingat. Tadinya aku mau mengambil Naomi, tapi aku tergoda dengan nama Yoko Tawada yang belum pernah kudengar sebelumnya, ditambah cover foto kereta dan kata-kata Europe yang membuat buku ini terdengar seperti catatan perjalanan (padahal bukan). Penulis Jepang ditambah cerita tentang Eropa… how can you ever go wrong with that? 

Seperti buku-buku Jepang lainnya yang pernah kubaca, buku ini memiliki bahasa yang sederhana. Aku membayangkan isinya seperti novel Haruki Murakami, yang, meski bernuansa surealis, tetap mudah dicerna dan diambil maknanya. Dari pembukanya Tawada sudah menawarkan dunia yang menggabungkan sains dengan fantasi, tapi masih dalam suasana kehidupan sehari-hari. Seketika realita menjadi ajaib dan tak terduga-duga. Ambil contoh paragraf pertama dari cerita pertamanya, The Bath:

Eighty percent of the human body is made of water, so it isn’t surprising that one sees a different face in the mirror each morning. The skin of the forehead and cheeks changes shape from the moment to moment like the mud of a swamp, shifting with the movements of the water below and the footsteps of the people walking above it.

Mulanya aku tertegun dengan analogi yang unik antara air dan perubahan wajah ini. Masih masuk di akal. Aku teruskan membaca, mengharapkan analogi-analogi lain yang sama menariknya. Tapi makin lama, yang kutemukan adalah keanehan yang lebih hebat dari sebelumnya. Keanehan itu begitu… aneh… sampai-sampai aku benar-benar tidak mengerti maksudnya.

Aku berusaha mencerna apa yang tertulis pada halaman yang kubaca, tapi lambat laun aku mulai menduga bahwa nilai buku ini tidak diambil dari isinya, tetapi dari cara penulisannya, dari puisi yang diam-diam diselipkan di antara kata-kata sehari-hari dan realita yang membosankan. Kalau sudah terbiasa dengan gaya bercerita itu, kita akan terserap masuk ke dalam dunianya dan, mau tak mau, penasaran bagaimana kelanjutannya. Namun tak selalu aku bisa masuk ke dalam dunia tersebut. Aku merasa ada beberapa hal yang belum bisa kupahami dengan pengalaman yang kupunya saat ini.

Pernah kubaca bahwa bentuk cerita Tawada yang suka kelewat alien ini berkaitan erat dengan pengalamannya sebagai seseorang yang berusaha menempatkan dirinya di budaya yang berbeda-beda, menggunakan bahasa yang sama sekali lain dari bahasa yang diucapkannya sehari-hari. Pada intinya, pengalamannya menginjak dunia baru. Tawada berasal dari Jepang, tetapi menghabiskan tahun-tahun dewasanya di Jerman. Ia menulis cerita-ceritanya dalam bahasa Jerman, sebagian kecil dalam bahasa Jepang. Membayangkan bagaimana pikiran Tawada senantiasa melompat ke sana-sini, aku mulai mengerti keganjilan pikirannya. Aku tahu bahwa ketika menggunakan bahasa lain, kita akan mulai (setidaknya sedikit saja) berpikir seperti orang yang berbicara bahasa tersebut. Tapi aku tidak benar-benar mengerti soal berpindah “dunia”, karena aku belum pernah menetap di dunia yang lain dari tempatku berpijak sekarang.

Mungkin buku ini membutuhkan pembaca yang lebih berpengalaman, entah soal hidup atau soal buku.

img_2007

whereeuropebegins

[Read more about the book]

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s