Seni Menurut Carl Jung

Apalah makna seni dalam kehidupan? Seni bukan seperti teknologi yang memudahkan kegiatan sehari-hari. Beberapa berpendapat seni malah tidak ada gunanya; tidak memberikan jawaban, hanya mengajukan pertanyaan baru. Akan tetapi, seni tetap bertahan dari zaman ke zaman, mulai dari lukisan dinding di zaman batu sampai arsitektur, lukisan, ukiran, sastra, dan bentuk-bentuk lainnya yang bisa kita amati sekarang. Kehidupan manusia tidak lepas dari seni. Secara tidak sadar, pikiran manusia tidak lepas dari seni. Apa yang bisa membuatnya demikian? Buku ART & JUNG mencoba menjawab pertanyaan ini dengan mengkajinya dari sudut pandang psikologi, ilmu yang mempelajari pikiran dan perilaku manusia.

Buku ini berangkat dengan memperkenalkan Carl Gustav Jung (baca: karl gustav yung), seorang psikiater dan psikoanalis dari Swiss yang memiliki minat luas. Ia senang mempelajari budaya bangsa lain. Ia mendalami arkeologi, filsafat, filologi, dan yang terpenting, ia adalah seorang seniman. Karya-karya Jung memiliki pengaruh besar pada berbagai bidang seperti psikologi, sastra, antropologi, dan ilmu agama.

“Ia (Jung) lelaki yang cukup tinggi dan tegap. Pakaian dan rambutnya tertata rapi. Di puncak hidungnya bertengger kaca mata bundar. Kumisnya tipis, sorot matanya tajam. Ia hampir tidak pernah terlihat tanpa pipa cangklongnya.”

– Bab I: Cerita Dua Babak

Dari studi terhadap seni dan budaya bangsa-bangsa lain, Jung menyadari sesuatu yang unik: meski terpisah dalam jarak dan waktu, manusia memiliki kesamaan ide dalam karya seni yang mereka buat. Jung menyebutnya ketidaksadaran kolektif, yakni pengalaman nenek moyang manusia yang terus diturunkan seejak jutaan tahun lalu sehingga menjadi sesuatu yang dimiliki semua orang, tidak peduli apa ras dan kulturnya.

Pengalaman yang diturunkan ini mewujudkan dirinya dalam bentuk seni dan budaya, termasuk mitos-mitos. Contohnya adalah legenda Oedipus Complex dari Yunani dan Sangkuriang dari Tatar Sunda, keduanya menceritakan laki-laki yang jatuh cinta pada ibunya sendiri. Dari segi arsitektur, terdapat bentuk-bentuk tertentu yang dapat ditemukan di berbagai negara, contohnya bentuk obelisk yang sering dijadikan bentuk monumen dan bentuk segitiga yang muncul pada candi/kuil.

Bentuk arsitektur segitiga dapat ditemukan pada Candi Sukuh di Jawa Tengah (kiri), kuil Templo Mayor milik Bangsa Aztec (kanan), dan piramida di Mesir

Ketidaksadaran kolektif juga muncul dalam lukisan, sastra, film, maupun karya seni lainnya. Hal ini menggambarkan bahwa semua manusia sesungguhnya universal. Setiap manusia ibarat gunung es. Yang tampak, yang kita sadari, hanya sebagian kecilnya. Sisanya yang besar ada dalam samudera alam bawah sadar yang turut menjadi tempat bagi gunung es-gunung es lainnya. Samudera inilah yang dikatakan ketidaksadaran kolektif.

Mengetahui teori di balik fenomena kesamaan karya seni berbagai bangsa menjelaskan banyak hal tak hanya tentang seni, tetapi juga tentang psikologi manusia, sebab untuk mengetahuinya kita perlu juga memahami teori psikologi analitis.  Kisah mengenai asal usul psikologi analitis pada buku ini, dimulai dari pertemanan Jung dengan mentornya, Sigmund Freud, membantu kita memahami bahwa manusia memiliki alam sadar dan bawah sadar. Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh kalangan umum sehingga pembaca tidak perlu takut dengan terminologi-terminologi psikologi yang terkesan rumit.

Selain mengenai teori ketidaksadaran kolektif, berbagai kaitan teori-teori Jung dengan seni seperti dualisme, proses kreatif seorang seniman, dan cerita mengenai karya seni Jung turut memperkaya materi buku ini. Setiap bagian diberi pengantar, ditulis secara ringkas dan jelas, dan dihiasi ilustrasi. Tebalnya juga tidak seperti buku teks. Jadi, tidak masalah kalau belum akrab dengan psikologi.

Menurut saya buku ini sangat menarik untuk orang-orang yang suka seni maupun psikologi. Sayang, buku ini sepertinya tidak begitu terkenal. Mungkin karena kavernya kelihatan terlalu serius, atau memang stoknya sedikit, entahlah. Saya harap berikutnya akan lebih banyak buku berbahasa Indonesia yang membahas psikologi dalam bahasa yang menyenangkan agar bisa dimengerti kalangan awam.

***

artnjung cover

ART & JUNG – Seni dalam Sorotan Psikologi Analitis Jung
Penulis: Buntje Harbunangin

Advertisements

One thought on “Seni Menurut Carl Jung

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s