Sekarang Saya Percaya Kalau Sekolah Kedokteran Itu Susah

“Halo, apa kabar?” Opening post blog yang sangat klise ya, hahaha. Untuk kabar saya: Everything is under control. Well, at least I hope they are. 

Hampir 5 bulan saya sudah menjadi koas alias koasisten alias dokter muda. Yang sudah lewat baru satu stase, yakni stase bedah. Sekarang saya sedang di stase anak (selanjutnya hanya akan disebut anak), stase yang kabarnya paling killer dari semua stase. Bahan belajarnya gak habis-habis, dan ujiannya pun sulit. Saat mendengar kata-kata itu, saya tidak terbayang bagaimana sulitnya belajar di anak. Sesulit apa, sih, memangnya?

Ternyata, oh ternyata.

Sehari-harinya, kami mulai jam 7 pagi. Kalau beruntung, ya jam 8 pagi. Lalu belajar. Waktu luang di sela-sela kegiatan digunakan untuk mengerjakan tugas periksa pasien dan menulis statusnya, atau menghubungi konsulen untuk janjian ujian. Pulangnya bisa maghrib. Kalau dapat jatah jaga IGD, ya lanjut lagi sampai besok paginya. Mulai dari pagi lagi. Mungkin sempat pulang sebentar untuk tidur, tapi kebanyakan waktu dihabiskan di rumah sakit (oh, belum lagi kalau dapat jaga di weekend/hari libur!).

Sekilas terasa sibuk saja. Tapi tak hanya itu; sulitnya terletak pada banyaknya bahan yang harus dipelajari, ekspektasi konsulen-konsulen yang tinggi, rasa tertekan akibat lingkungan belajar yang ambisius, sempitnya waktu, dan lelahnya jaga malam yang berakumulasi dalam satu waktu.

Di pertengahan stase, saya sempat “jatuh” dan susah bangkit. Saya lelah sekali. Saat di preklinik pun (sebelum koas), saya luntang-lantung berusaha melewati semuanya. Koas pun sangat berbeda dengan preklinik yang isinya “hanya” belajar. Di sini kami harus berhadapan dengan orang yang beneran sakit, baik pagi, siang, maupun malam ketika jaga malam. Nanya-nanya dan periksa dengan teliti si pasien tentang sakitnya. Mikir itu sakitnya sebenarnya apa. Cara nyembuhin si pasien gimana. Dan setelah itu, ujian face-to-face sama dosen, bukan sama kertas.

Basically, we have to learn a lot–a whole lot–so we can prove ourselves worthy of becoming a doctor. 

***

Setelah beberapa tahun menjalani sekolahnya, saya mendapatkan satu kesimpulan: untuk menjadi dokter, seseorang harus punya niat yang sangat, sangat kuat, sebab tantangan ke depannya akan banyak dan terus berdatangan. It’s a job of a lifetime. 

Foto: bersama Sarah, teman seperjuangan koas. 

Advertisements

One thought on “Sekarang Saya Percaya Kalau Sekolah Kedokteran Itu Susah

  1. Hai! nice writing, nice blog. Saya cuma kebetulan mampir karena keyword yang saya ketik di google membuat saya terdampar di blog ini. Kalau boleh berkomentar, niat dan passion itu diperlukan. Pengalaman kamu seru banget, pasti bakal berkesan suatu saat nanti. Mudah-mudahan niat kamu ga berubah, tapi kalau seandainya berubah, setidaknya selesaiin dulu masa koasnya, hehe-h. salam kenal.

    Like

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s