Dua Minggu Menjadi Koas

Orang sering berpikir, kalau menjadi mahasiswa kedokteran, pasti ada banyak ceritanya. Apalagi kalau sudah menjadi koas (co-assistant), mahasiswa kedokteran yang sudah memasuki tahap klinik dan belajar di rumah sakit pendidikan.

Wajar, sih, kalau kami punya banyak cerita. Sehari-harinya kami bertemu dengan berbagai pasien, latihan bertanya-tanya tentang penyakitnya sementara otak kami sebenarnya lumayan kosong. Melongo saat menghadapi pertanyaan dokter-dokter maupun konsulen yang ilmunya jauh di atas kami. Menginap di rumah sakit karena harus jaga di IGD, menyaksikan bermacam-macam pasien yang kondisinya kadang-kadang begitu mengherankan  (tapi kami harus tetap mempertahankan wajah poker face) sampai begitu tragis (dan kami harus menahan air mata). Seribu satu kekonyolan juga terjadi di antara kami, para mahasiswa yang masih belajar. (Teman saya, misalnya, mendapati HP-nya kecemplung ke dalam kantong urin saat jaga di IGD. Teman-teman lainnya tertawa terbahak-bahak melihatnya.)

Tapi entah kenapa, buat saya kisah-kisah itu lebih berharga kalau saya tidak menceritakannya secara gamblang. Mungkin saya takut mendistorsi pengalaman-pengalaman itu dengan kemampuan bercerita saya yang kurang. Mungkin saya menunggu saat yang tepat untuk menuliskannya. Lagipula, baru dua minggu saya menjadi koas. Baru dua minggu saja saya merasa sudah belajar banyak hal.

Yang jelas, beberapa perubahan yang sudah saya rasakan: kali ini, saya mendapatkan diri saya mendedikasikan sebagian besar waktu untuk kedokteran. Entah itu untuk belajar atau mengurus hal-hal akademis lainnya. Saya tidak merasa keberatan tentang hal ini. Memiliki suatu tujuan hidup justru membuat saya semangat. Saya menikmati proses belajar, karena saya akan membutuhkan ilmunya nanti ketika berhadapan dengan pasien. Saya rela meninggalkan hobi-hobi saya yang banyak itu agar bisa konsentrasi saat koas. Saya berusaha menempatkan diri di dunia kedokteran.

Saya baru melewati satu divisi di Departemen Bedah. Masih ada 7 minggu lagi sebelum saya beralih ke stase Anak, dan 2 tahun lagi sampai saya menyelesaikan masa klinik.

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s