Anak-Anak Masa Lalu (Resensi)

anak2 masa laluJudul: Anak-Anak Masa Lalu
Penulis: Damhuri Muhammad
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun: 2015
Jumlah halaman: 121
Harga: Rp33.000,00


Jujur, saya sering takut membaca cerpen dari Indonesia. Sebab saya sering kecewa dengan karya-karya bangsa sendiri. Seringkali buku-buku lokal berisi cerita picisan yang terlalu meromantisasi dengan bahasa yang berbunga-bunga, padahal muatan maknanya secuil. Sebagai penggila makna, saya sering kecewa pada buku lokal sehingga beberapa tahun ini saya lebih sering membaca buku berbahasa Inggris.

Tapi suatu hari saya melihat Anak-Anak Masa Lalu di sebuah toko buku di Depok–entah kenapa saya merasa familiar dengan buku ini. Setelah saya ingat-ingat, mungkin bang Esha Tegar pernah menyebut-nyebut judulnya saat kelas menulis di POST Pasar Santa. Saya ingat bahwa buku itu memiliki judul yang mengesankan. Selain itu, desain covernya menarik, dan penerbitnya pun Marjin Kiri, penerbit yang juga merilis salah satu buku favorit saya, Saling-Silang Indonesia Eropa (Joss Wibisono). Entah kenapa, saya punya insting saja bahwa buku ini bagus. Dan ternyata insting itu benar.

Baiklah, mulai dari mana ya? Pertama-tama, bahasa yang digunakan di buku ini indah sekali. Saya jadi ingin menelusuri paragraf demi paragraf untuk menikmati bahasa itu, meski banyak pula kata-kata bahasa Indonesia yang baru saya kenal melalui buku ini. Saya juga sangat terkesan oleh gabungan-gabungan kata, dan rima-rima yang bermunculan, dan perumpamaan yang disusun penulis. Berikut contohnya:

“Dari pagi ke pagi, mulut-mulut itu, satu demi satu, bagai beralih-rupa menjadi toa. Bila toa di surau mengumandangkan azan, maka toa-toa segala rupa yang terpancang seperti antena itu begitu kemaruk memancarkan gunjing, asung, dan pitanah, bahkan sekali-dua melepas umpat dan makian.”

“Apa jadinya lemang tanpa tapai? Tanpa manis tapai, manalah mungkin legit lemang dapat digapai? Barangkali itu sebabnya buah tangan yang kau bawa dari pekan ke pekan tiada beralih dari lemang-tapai.

Rasanya, dengan membaca buku ini, saya baru tahu kalau bahasa Indonesia bisa dijalin menjadi suatu bahasa yang begitu dramatis, tetapi tetap tidak dilebih-lebihkan. Saya sering membaca tulisan yang puitisnya terlalu dibuat-buat… tapi tulisan Bang Damhuri (cie sok kenal), bahasanya terasa autentik, dan entah bagaimana melahirkan emosi-emosi tertentu dari kata-kata yang ia susun, sehingga cerpen-cerpennya menjadi hidup.

Bahasa adalah daya tarik pertama yang membuat saya terus membaca buku ini. Yang kedua adalah topik unik yang diangkat di setiap cerita. Cerpen-cerpen di buku ini banyak yang mengungkit kehidupan “orang kampung”, sebagaimana Bang Damhuri mengenang masa-masanya di kampung halamannya. Tapi kisah-kisahnya bukan saja tentang urusan-urusan sehari-hari pada umumnya–beberapa dibumbui unsur fantastis yang dekat dengan orang Indonesia, seperti legenda-legenda yang dipercayai orang setempat, jimat ajaib, dan ulama-ulama yang bersilat. Hebatnya, cerita-cerita “kampungan” itu dibuat menjadi begitu memikat, apalagi dengan tokoh-tokohnya yang simpatik. Awalnya saya sebatas ingin tahu bagaimana kelanjutan kisah tokoh-tokoh itu, tapi pada akhirnya, saya yang sebenarnya kurang cinta dengan budaya bangsa sendiri malah perlahan-lahan jatuh cinta pada budaya tersebut!

Bagian epilog terutama adalah bagian yang sangat mengesankan bagi saya. Jujur, saya merasa terharu membaca pengalaman yang diceritakan penulis di bab itu, sebab saya pun pernah mengalami keterasingan, ketersisihan, dan kesendirian di lingkungan saya, dan saya merasa tak banyak orang yang ingin mengungkit sisi gelap kehidupan mereka. Ke mana-mana saya melihat di antara karya-karya lokal, kebanyakan yang saya lihat adalah kesederhanaan, kebahagiaan, dan kisah-kisah cinta, sehingga saya terkadang merasa semakin terasing. Tapi melalui buku ini, saya jadi tahu bahwa seorang sastrawan sebangsa saya telah mengenang pengalaman pahitnya dan mentransformasinya menjadi kisah untuk dibagikan kepada orang banyak. Menurut saya, itu adalah suatu hal yang hebat dan menginspirasi. Dan epilog ini makin menambah makna pada cerpen-cerpen di buku ini, membuat saya ingin membacanya lagi.

Tak heran buku ini masuk ke dalam 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa.

 

Advertisements

4 thoughts on “Anak-Anak Masa Lalu (Resensi)

  1. wah…. wah wah…. nampaknya bagus sekali… covernya punya desain yang biikin jatuh hati duluan, ternyata isinya jugaaa… ihh, dari harganya, sepertinya buku ini sudah tidak beredar dengan banyak yah di toko buku umum… ih, penasaran isinya.. mau membacanya… T_T

    Like

    1. Penerbitnya buka orderan kok! Skalian mesen kumcer AS Laksana bisa tuh (si janggut mengencingi herucakra), di review2 banyak dibilang bagus juga *promosi marjin kiri hahhaa

      Liked by 1 person

      1. Wah… Sepertinya marjin kiri sukses jadi nama afirmasi yang bikin saya makin kepo… Gimana sih cara dapetin buku ini dan buku lainnya Marjin Kiri? Kasih tahu yah… Hehe.. Keknya seru nyontek pilihan tentang AS Laksana nya 🙂

        Like

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s