Tips Belajar Anatomi di Fakultas Kedokteran

yah gitudeh
Foto by… saya sendiri hehe

Di tahun pertama saya sebagai mahasiswa kedokteran, anatomi seringkali dijadikan momok sebagai ilmu yang mengerikan. Tak semata-mata mengerikan karena harus menghadapi mayat yang sudah diawetkan (cadaver), tetapi juga karena hafalannya yang sulit ditaklukkan. Sebagai gambaran, pada ujian praktikum anatomi yang pertama di tingkat 1, 70 dari 180-an anak di angkatan harus mengulang (remedial), termasuk saya. Akan tetapi, dua semester kemudian, saya malah menaruh harapan pada ujian anatomi setiap kali saya melalui rentetan ujian di suatu modul, karena bagi saya ilmu anatomi adalah ilmu yang paling mungkin dikuasai. Di sini akan saya jabarkan beberapa cara yang saya upayakan dalam mempelajari ilmu anatomi.

Sebagai pengantar, cara pembelajaran anatomi di kampus saya (FKUI) mungkin akan berbeda dengan kampus pembaca. Kalau di FKUI, mahasiswa pertama-tama akan diberikan kuliah anatomi, misalnya anatomi sistem kardiovaskuler. Kemudian kami akan mendapatkan checklist berisi daftar struktur yang harus dicari. Praktikum bersama cadaver dilakukan dalam bentuk meja-meja station  yang berisi sediaan tertentu. Saat praktikum, dosen tidak selalu ada di dalam station sehingga mahasiswa harus bisa belajar mandiri. Kalau tidak mengerti, baru bertanya pada dosen. Mungkin di universitas pembaca metodenya  sedikit berbeda, tapi saya harap tips-tips di bawah ini bisa tetap berguna.

Membaca Buku Teks

Buku akan memberikan landasan teori yang baik untuk memulai belajar anatomi. Dengan membaca, kita bisa mengetahui struktur apa-apa saja yang harus kita ketahui dan apa signifikansinya dalam dunia klinis sehingga kelak kita akan lebih mudah mengingatnya.

Kita dapat menggunakan buku yang fokus di anatomi saja, seperti:

  • Clinically Oriented Anatomy  (Keith L. Moore). Buku ini memberikan informasi yang sangat mendetil dan komprehensif, tapi mungkin lebih berat bagi otak.
  • Gray’s Basic Anatomy (Richard Drake). Seperti buku Clinically Oriented Anatomy, tapi lebih sederhana.

atau kita bisa menggunakan buku yang membahas anatomi dan fisiologi. Biasanya pembahasan di buku ini cukup ringkas dan menyenangkan, tapi terkadang kurang lengkap. Berikut contoh buku-bukunya:

  • Principles of Anatomy and Physiology (G. J. Tortora)
  • Marieb’s Human Anatomy and Physiology (E. N. Marieb)
  • Fundamentals of Anatomy and Physiology (F. H. Martini)

Melihat Atlas untuk Memahami Detil

Tidak semua struktur yang disebutkan di dalam checklist ada di buku teks, karena beberapa merupakan struktur-struktur yang kecil dan mendetil. Buku teks juga seringkali tidak memberikan gambaran tiga dimensi yang jelas. Oleh karena itu, kita memerlukan atlas untuk lebih memahami landasan teori yang sudah kita baca.

 

perbandingan gambar di atlas Netter (kiri) dan Yokochi (kanan)

Saya menggunakan dua atlas: Netter dan Yokochi. Berbeda dengan atlas Sobotta, kedua atlas ini tidak terbagi-bagi menjadi beberapa volume. Netter adalah ahli bedah yang dulunya pelukis, dan lukisan-lukisan anatominya sangat mudah dipahami untuk pemula. Setelah menguasai struktur yang dicari di atlas Netter, saya membuka atlas Yokochi yang berisi foto-foto cadaver untuk membandingkan gambar dengan kenyataan, yang biasanya sangat berbeda. Seperti kata Oscar Wilde, “Life imitates art far more dan art imitates life.” Intinya, atlas Yokochi digunakan untuk memastikan apakah kita sudah benar-benar mengerti anatomi anatomi yang ideal.

Sebenarnya pembaca juga bisa menggunakan atlas Sobotta. Fleksibel saja. Atlas Sobotta sangat detil, tapi mungkin agak merepotkan karena terpisah-pisah jadi beberapa buku, jadi berat kalau dibawa-bawa ke kampus, hehe.

Almarhum Oom Netter sedang asik melukis anatomi. sumber

Menggambar untuk Mengingat

“Tapi saya tidak bisa menggambar!” Tenang saja, di sini pembaca tidak dituntut untuk melukis Mona Lisa atau membuat sketsa anatomi seperti sketsa Leonardo Da Vinci. Pembaca hanya perlu membuat gambaran skematik yang bisa membantu dalam memahami dan menghapal. Tapi cara ini sebenarnya adalah cara tambahan saja, mau dilakukan boleh, tidak dilakukan juga silahkan. Untuk saya pribadi, menggambar sangat membantu saya memahami cabang-cabang pembuluh darah.

Kunci dalam menggambar untuk menghapal adalah tidak menggambar sambil melihat gambar yang dicontoh. Mulailah dengan mengobservasi struktur yang akan kita gambar dan mengingat benar bayangannya di kepala. Setelah mempunyai bayangan yang jelas tentang apa yang akan digambar, beralihlah ke kertas dan coba digambar, kemudian dibandingkan dengan yang asli. Kalau salah, diulangi lagi.

  beberapa gambar anatomi yang saya buat di modul Kardiovaskuler (klik untuk zoom)

Memanfaatkan Teknologi

Ini juga tambahan. Cuma untuk mengingatkan bahwa kita hidup di era yang serba canggih, jadi jangan sia-siakan teknologi yang pembaca miliki.

ClinicalKey

Merasa membawa-bawa atlas terlalu berat? Kamu bisa mengakses atlas secara legal menggunakan situs-situs online seperti ClinicalKey. ClinicalKey adalah situs dari Elsevier yang menyediakan akses dalam jaringan ke berbagai macam buku teks kedokteran, termasuk atlas Netter. Untuk bisa mengakses atlas dari ClinicalKey, fakultas pembaca harus berlangganan terlebih dahulu. Dalam hal ini fungsi ClinicalKey bisa digantikan oleh StudentConsult (apabila pembaca membeli atlas yang punya akses StudentConsult, seperti Netter). 

Aplikasi tiga-dimensi interaktif

Sebenarnya saya jarang menggunakan fitur ini karena biasanya menggunakan atlas sudah cukup, tapi kalau anatominya sulit dibayangkan atau memusingkan ketika diputar-putar (seperti anatomi neurosains dan muskuloskeletal), pembaca bisa menggunakan alternatif ini. Contoh aplikasi yang saya tahu adalah Anatronica, tapi yang lain juga banyak (bisa dicari sendiri di Google).

Baiklaah, selesai juga post yang satu ini. Saya harap bisa membantu pembaca yang juga sedang kuliah di fakultas kedokteran. Pesan terakhir, tetaplah bersemangat dan jangan lupa untuk menghargai cadaver yang ada dan luruskan niat untuk belajar. Usahakanlah semaksimal mungkin untuk belajar sebelum praktikum, karena dengan begitu struktur anatomi yang dilihat saat praktikum akan lebih make sense.

Selamat belajar!

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s