Tips Belajar Anatomi di Fakultas Kedokteran

Di tahun pertama saya sebagai mahasiswa kedokteran, anatomi seringkali dijadikan momok sebagai ilmu yang mengerikan. Tak semata-mata mengerikan karena harus menghadapi mayat yang sudah diawetkan (cadaver), tetapi juga karena hafalannya yang sulit ditaklukkan. Sebagai gambaran, pada ujian praktikum anatomi yang pertama di tingkat 1, 70 dari 180-an anak di angkatan harus mengulang (remedial), termasuk saya. Itu adalah satu-satunya ujian remedial yang saya jalani di masa preklinik.

Menyerah? Jelas tidak.like-a-boss-png-file

Dua semester kemudian, saya sudah belajar menyiasati ujian anatomi. Saya justru menaruh harapan pada ujian anatomi setiap kali saya melalui rentetan ujian di suatu modul (mungkin di universitas lain disebut juga blok), karena bagi saya ilmu anatomi adalah ilmu yang paling mungkin dikuasai. Di sini akan saya jabarkan beberapa cara yang saya upayakan dalam mempelajari ilmu anatomi.

*Sebagai pengantar, cara pembelajaran anatomi di kampus saya (FKUI) mungkin akan sedikit berbeda, tapi semoga tetap membantu. Kalau di FKUI, mahasiswa pertama-tama akan diberikan kuliah anatomi, misalnya anatomi sistem kardiovaskuler. Kemudian kami akan mendapatkan checklist berisi daftar struktur yang harus dicari. Praktikum bersama cadaver dilakukan dalam bentuk meja-meja station  yang berisi sediaan tertentu. Saat praktikum, dosen tidak selalu ada di dalam station sehingga mahasiswa harus bisa belajar mandiri. 

1. Membaca Buku Teks

Yang namanya membaca buku memang tidak tergantikan. Mau dikuliahin kayak gimanapun, kita tetep perlu baca buku. Buku memberikan landasan teori yang baik untuk tahu korelasi antar struktur-struktur anatomi dan bagaimana signifikansinya dalam praktik klinis.

Jadi, meski kamu tahu kamu akan tidur 5 menit setelah membaca beberapa kalimat, usahakan untuk tetap membaca buku, apapun yang terjadi!

05361fbf37b83ba7d7d86b5e1a92e658

Kamu bisa baca buku yang fokus di anatomi saja, seperti:

  • Clinically Oriented Anatomy  (Keith L. Moore). Buku ini memberikan informasi yang sangat mendetil dan komprehensif, tapi mungkin lebih berat bagi otak.
  • Gray’s Basic Anatomy (Richard Drake). Seperti buku Clinically Oriented Anatomy, tapi lebih sederhana.

51dgt5bsa1l-_sx383_bo1204203200_

Buku anatomi Moore, menurut saya, adalah gold standard untuk belajar anatomi. Lengkap banget beserta korelasi klinisnya.

atau kamu bisa baca buku yang membahas anatomi beserta fisiologinya. Bagus untuk pemula, kalau menurut saya. Biasanya pembahasan di buku ini cukup ringkas dan menyenangkan, tapi mungkin kurang lengkap. Contohnya Principles of Anatomy and Physiology (G. J. Tortora), Marieb’s Human Anatomy and Physiology (E. N. Marieb), dan Fundamentals of Anatomy and Physiology (F. H. Martini).

2. Melihat Atlas

frank-h-netter-md

Om Netter, just chillin’ sambil melukis anatomi

Oke, sekarang kita akan memasuki dunia visual. Tidak semua struktur yang disebutkan di dalam checklist ada di buku teks, karena beberapa merupakan struktur-struktur yang kecil dan mendetil. Buku teks juga seringkali tidak memberikan gambaran 3D yang jelas. Kita perlu atlas untuk lebih memahami landasan teori yang udah kita baca.

perbandingan gambar di atlas Netter (kiri) dan Yokochi (kanan)

Saya menggunakan dua atlas: Netter dan Yokochi. Berbeda dengan atlas Sobotta, kedua atlas ini tidak terbagi-bagi menjadi beberapa volume. Netter adalah ahli bedah yang dulunya pelukis, dan lukisan-lukisan anatominya sangat mudah dipahami. Setelah menguasai struktur yang dicari di atlas Netter, saya membuka atlas Yokochi yang berisi foto-foto cadaver untuk membandingkan gambar dengan kenyataan, yang biasanya sangat berbeda. Seperti kata Oscar Wilde, “Life imitates art far more dan art imitates life.” Intinya, atlas Yokochi digunakan untuk memastikan apakah kita sudah benar-benar mengerti anatomi anatomi yang ideal.

Kamu juga bisa menggunakan atlas Sobotta. Fleksibel saja. Atlas Sobotta sangat detil, tapi mungkin agak merepotkan karena terpisah-pisah jadi beberapa buku, jadi berat kalau dibawa-bawa ke kampus, hehe. Sesuai selera dan kebutuhan, lah.

3. Menggambar untuk Mengingat

leonardo-da-vinci-the-anatomical-artist2

Serius? Harus bisa ngegambar dong??

Tenang saja, di sini kamu tidak dituntut untuk bisa membuat sketsa anatomi seperti sketsa Leonardo Da Vinci di atas. Memang, ada keuntungannya kalau bisa menggambar dengan realistis, tapi itu adalah tugas dan ranah para pelukis. Yang terpenting untuk kita para calon dokter adalah bisa mengetahui apa-apa saja yang ada di lokasi tertentu, bagaimana skemanya.

Kunci dalam menggambar untuk menghapal adalah tidak menggambar sambil melihat contoh. Mulailah dengan mengobservasi bagian yang akan kita gambar dan membayangkan strukturnya secara skematik. Misalnya, kalau menggambar cabang-cabang aorta, kamu tidak perlu menggambar lekukan indah pembuluh darah itu. Kamu bisa membuatnya cabang arteri lurus-lurus seperti mendesain jalanan. Usahakan bisa menggambar dari memori. Ulangi terus bila salah dan latihlah sampai benar-benar hapal.

Aorta Branches Diagram Circulatory Pathways

  Seperti ini, lho, maksudku. Diambil dari anatomyid.com

Namun, jangan lupa kalau tips ini tidak saklak dan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Kalau menurutmu kamu tidak bisa mengerti kalau tidak digambar dengan cantik, ya monggo digambar yang cantik. Kalau kamu gampang ingat gambaran sesungguhnya dari cadaver dan tidak mau menggambar, atau cukup dengan membuat skemanya, ya sudah. Bebas saja!

4. Memanfaatkan Teknologi

a. Simpan di Gadget

Merasa membawa-bawa atlas terlalu berat? Simpan saja gambar struktur-struktur yang dipelajari atau catatanmu di HP atau tab. Gambarnya cari saja di Google. Atau foto struktur itu dari atlas yang kamu punya di rumah. Jangan membebani diri sendiri dengan hal-hal tak perlu yang sekarang sudah tergantikan oleh teknologi. 

Kalau mau sekalian ambil gambar yang bersih secara legal, kamu bisa mengakses atlas menggunakan situs-situs online seperti ClinicalKey. ClinicalKey adalah situs dari Elsevier yang menyediakan akses dalam jaringan ke berbagai macam buku teks kedokteran, termasuk atlas Netter. Untuk bisa mengakses atlas dari ClinicalKey, fakultasmu harus berlangganan terlebih dahulu. Atau kamu juga bisa mengakses atlasmu secara online dengan StudentConsult kalau kamu membeli atlas yang punya akses StudentConsult, seperti atlas Netter.

b. Aplikasi 3D Interaktif

Sebenarnya saya jarang aplikasi-aplikasi medis zaman sekarang karena biasanya menggunakan atlas sudah cukup, tapi kalau anatominya sulit dibayangkan atau memusingkan ketika diputar-putar (seperti anatomi otak), kamu bisa menggunakan alternatif ini. Bisa dicari sendiri di Google.

***

Baiklaah, selesai juga post yang satu ini. Saya harap bisa membantu pembaca yang juga sedang kuliah di fakultas kedokteran.

Pesan terakhir, tetaplah bersemangat dan jangan lupa untuk menghargai cadaver yang ada dan luruskan niat untuk belajar. Usahakanlah semaksimal mungkin untuk belajar sebelum praktikum, oke?

Selamat belajar, and go ace that exam!

 

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s