Ketika Musik Bercerita: Tarian Polovtsy

Sudah berapa banyak desa yang dijarah, berapa banyak warga yang diculik untuk dijual sebagai budak oleh kaum Polovtsy? Pangeran Igor Svyatoslavich berkali-kali mendapat laporan mengenaskan tentang daerah kekuasaannya di Novgorod-Seversk, dan hatinya sudah tidak kuat mendengarnya. Namun, tak seorang pun pangeran lainnya peduli pada kekuatan suku nomadik dari Selatan itu, sebab mereka telah disibukkan dengan urusan masing-masing, yakni harta dan kekayaan.

Igor duduk di singgasananya, merenung. Kaum Polovtsy, bila tidak segera ditindaklanjuti, akan menghancurkan negeri Rus pelan-pelan. Mereka telah menjajah sedikit demi sedikit, membawa ancaman yang nyata bagi Rus. Ia tak bisa tidur teringat akan pondok-pondok yang dibakar, nyawa-nyawa tak bersalah yang lenyap oleh pedang musuhnya, sementara ia, sang penguasa, hanya berdiam diri tak berdaya. Tentaranya tentu jauh lebih sedikit daripada orang-orang Polovtsy. Tapi siapa lagi yang akan bertindak kalau bukan dirinya?

Ia beranjak dan melangkah menuju kapel istana. Di bawah ikon Kristus, ia merunduk dan berdoa.

“Tuhan, bila memang ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan bangsaku, maka berkahilah perjalananku!”

Igor berdoa dan berdoa, hingga perasaannya bisa tenteram kembali. Ia terbangun keesokannya tanpa lagi merasa takut. Tekadnya sudah bulat. Ia memanggil pasukannya, mengumumkan bahwa mereka akan mengusir musuh dari wilayah Rus. Senjata dan baju zirah dikeluarkan dari peti. Kuda-kuda dipersiapkan sejumlah tentara yang akan berangkat. Lalu tibalah hari yang menentukan, dan ketika matahari telah bergantung di langit, ia meminta rakyatnya untuk berkumpul di alun-alun kota, kemudian ia berdiri di hadapan mereka dan berkata:

“Saudara-saudaraku! Lebih baik bagi kita tewas di medan pertempuran daripada menjadi budak! Marilah kita bersama-sama merebut kembali tanah yang telah dicuri kaum Polovtsy. Kepada kalian, bangsa Rus, kuberikan nyawaku!”


479px-PrinceIgorTN
poster opera Pangeran Igor saat pertama kali ditampilkan di Rusia

Aku menutup mata, membayangkan kisah Pangeran Igor seraya mendengarkan Polovtsian Dance karya Alexander Borodin, sebuah lagu yang cukup populer di dunia musik klasik. Lagu ini adalah bagian dari opera Borodin berjudul Knyaz Igor (Pangeran Igor), yang pertama kali ditampilkan di St. Petersburg, Rusia, pada tahun 1890. Pangeran Igor merupakan salah satu dari banyak pangeran yang berkuasa di Kievan Rus’–sebutan untuk Rusia di abad ke-12–masing-masing di daerah tertentu (sistem ini disebut juga fiefdoms, dan sekarang sudah tidak digunakan lagi di Rusia). Ia berangkat tanpa mendapat bantuan pangeran-pangeran lainnya menyerang kaum Polovtsy yang membuat kekacauan di tanah Rus. Kisah Pangeran Igor  sangat terkenal di Rusia, dan berperan untuk mengingatkan betapa seseorang telah berjuang mengorbankan dirinya demi kepentingan bangsanya. Di abad ke-18, kisah ini diabadikan dalam puisi epik berjudul The Song of Igor’s Campaign.

Aku pertama kali mendengar Polovtsian Dance beberapa tahun yang lalu, tapi baru belakangan ini tahu tentang sejarahnya. Awalnya aku terkejut bahwa kaum Polovtsy yang dijadikan judul lagu itu ternyata musuh orang Rusia dahulu. Aku mengira kaum itu hanyalah kaum eksotis (karena nada-nada lagunya berbau oriental) yang ditemukan sang pangeran dalam perjalanannya. Sebab, lagu Polovtsian Dance diawali dengan melodi yang begitu lembut dan sendu sehingga membuatku merasa simpatik terhadap kaum yang diceritakan dalam lagu itu. Ternyata, bagian awal yang indah itu merupakan satu bagian tersendiri dari Polovtsian Dance yang berjudul Gliding Dance of the Maidens.

Gadis (maiden) yang dimaksud judul itu adalah gadis-gadis milik kaum Polovtsy yang menari-nari untuk menghibur khan (penguasa) Polovtsy. Pangeran Igor menyaksikan itu bersama sang khan di markas orang-orang Polovtsy, sebab pasukannya telah kalah dalam pertempuran dan ia dijadikan sandera.

Membaca sejarah Pangeran Igor memberikan suplai imajinasi pada suasana yang tergambarkan ketika aku mendengarkan Polovtsian Dance. Selama ini aku mendengarkan musik tanpa mengetahui cerita di baliknya, dan begitu saja aku sudah bisa menikmati musik tersebut. Aku sering mendengar nama Pangeran Igor sebagaimana aku sering mendengar nama Boris Godunov (seorang tsar Rusia yang kisahnya juga dibuat menjadi opera oleh Mussorgsky), tapi tak pernah tahu bagaimana cerita operanya.

Hal ini membuatku sadar bahwa musik bisa dinikmati dalam berbagai tingkatan. Pada tingkat yang paling superfisial, tentu kita mendengarkannya dari segi nyaman atau tidaknya musik tersebut menurut persepsi kita. Tapi kenikmatan yang kita dapatkan pada tingkat ini tak seberapa, dan dapat hilang semata-mata bila kita mendengarkan musik itu berkali-kali, apabila musik itu tak memiliki makna. Makna berada tingkatan yang lebih lanjut dari aktivitas mendengarkan musik, dan akan memberikan efek yang lebih berkepanjangan. Mengetahui kisah di balik lagu Polovtsian Dance, misalnya, menambah makna pada lagu itu sehingga suatu elemen baru (yakni kisah itu sendiri) telah ditambahkan ke dalam musik tersebut, membuatnya lebih berwarna dan hidup. Kita jadi tahu benar siapa itu orang Polovtsy, apa hubungan Pangeran Igor dengan Polovtsy, dan seterusnya. Kita memahami karya itu lebih menyeluruh.

Polovtsian Dance telah diaransemen untuk berbagai instrumen, seperti piano, gitar, dan viola. Meski seringkali dimainkan terpisah dari opera yang asli, musik ini tetap tidak kehilangan keindahannya. Video di atas ini, misalnya, memainkan aransemen Polovtsian Dance untuk dua piano yang tak kalah cantiknya dengan versi aslinya. Pembaca bisa menemukan aransemen-aransemen menarik lainnya di YouTube.

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s