Ryuichi Sakamoto dan Pencarian Musik

Kita tidak mendengarkan lagu yang kita suka hanya sekali. Apabila kita telah menemukan lagu yang cocok, kita bisa memutarnya berulang-ulang secara loop, dalam jangka waktu yang lama, sampai akhirnya kita mencapai titik jenuh dan berpindah ke lagu yang lain. Sayangnya, lagu yang dapat membuat kita ketagihan seperti sebelumnya terkadang sulit ditemukan. Perjuangan mencari musik pun berlangsung hingga akhirnya kita mendapatkan musik yang tepat, dan mengulangi pemutaran lagu secara loop yang seperti tiada ujungnya itu.

Saat ini, pencarian saya berujung pada musik Ryuichi Sakamoto, seorang musisi Jepang yang memainkan banyak genre musik. Saya bolak-balik memutar musiknya, semata-mata karena tidak ada musik lain yang lebih cocok untuk selera saya sekarang. Semakin lama rasanya semakin sulit mencari musik yang enak didengar. Musik populer yang sering diputar di radio terasa terlalu ringan dan intrusif, sedangkan musik klasik terasa terlalu berat karena perlu didengarkan benar-benar untuk bisa dinikmati. Mencari peralihan dari dua titik yang ekstrem memang tidak mudah, tapi sekali menemukan musik yang berhasil mencapainya, biasanya saya akan memutarnya berulang kali sampai benar-benar muak. Musik Sakamoto, bagi saya pribadi, telah berhasil mencapai titik tengah tersebut.

Ryuichi Sakamoto, foto oleh Jeannette Montgomery Barron
Ryuichi Sakamoto, foto oleh Jeannette Montgomery Barron

Sebelumnya, saya sudah pernah mendengar nama Sakamoto melalui salah satu musiknya yang cukup populer, Merry Christmas Mr. Lawrence. Musik itu merupakan soundtrack dari film berjudul sama yang juga ia bintangi (selain mengarang lagu, Sakamoto juga acting). Kini lagu itu telah digubah menjadi berbagai bentuk aransemen, seperti untuk piano dan orkestra, gitar dan piano, piano solo, dan lain-lain. Sakamoto sendiri memainkannya di piano dalam banyak versi. Semenjak Merry Christmas, ia mengarang musik untuk berbagai film dan memenangkan berbagai penghargaan atas karyanya, di antaranya Golden Globe dan Grammy. Tapi selain itu, ia juga memainkan musik dalam genre lainnya seperti elektronik, eksperimental, dan jazz.

Bertahun-tahun setelah mengenal Merry Christmas, saya baru menemukan musik pianonya secara tidak sengaja di suatu media sosial. Musik itu berjudul Amore, yang berarti cinta. Karena foto yang dipasang untuk musik itu terlihat mengesankan, saya coba putar saja. Di luar dugaan saya, meski judulnya terdengar sangat pasaran dan mengambil topik yang sangat sering digunakan dalam karya seni (cinta), Amore ternyata berbeda dari musik piano pop tentang cinta pada umumnya, sebut saja musik Yiruma. Sakamoto lebih introspektif, gelap, dan tidak mudah ditebak. Barangkali karena ia terpengaruh musik jazz yang biasa ia mainkan. Kunci-kunci yang dimainkan berbeda dari musik pop, sedikit bernuansa jazz, dan musiknya lebih banyak diwarnai nada yang terdengar minor.

Setelah mendengarkan Amore, saya beranjak ke musik piano Sakamoto lainnya yang ada di albumnya, Playing the Piano (2009). Karya-karyanya yang lain juga tidak kalah menarik, misalnya The Sheltering Sky dan A Flower Is Not a Flower yang sama sedihnya. Tak hanya musik-musik pelan, ia juga memainkan lagu-lagunya yang lebih bersemangat dan seru seperti Tibetan Dance dan Thousand Knives. Saya memutar album ini berkali-kali dalam beberapa hari terakhir. Lalu saya juga mencoba mendengarkan albumnya yang lain, yakni Casa.

RSakamoto_Playing
salah satu album Sakamoto, Playing the Piano (2009)

Yang saya senangi dari pengalaman mendengarkan musik yang cocok adalah kenyataan bahwa saya ingin mengulangnya terus menerus. Ada sesuatu yang asing dan menarik dari musik yang kita suka, semacam misteri yang membuat penasaran, seolah memutarnya berulang kali akan menjelaskan misteri itu. Pada musik-musik populer yang sering diputar, saya jarang sekali menemukan hal ini, sehingga saya cukup mendengarkan sebuah lagu sekali, atau bahkan tidak sampai habis, dan semuanya sudah jelas. Ketika saya mendengarkan Playing the Piano, saya merasakan misteri tersebut ada pada kadar yang tepat–tidak kurang sampai membuat musik itu terkesan tidak bermutu, dan tidak berlebihan sampai membuat bingung atau mengurangi kenikmatan mendengarkannya. Dan saya jadi teringat kata-kata Mikhail Pletnev, seorang pianis klasik asal Rusia:

Inti dari musik terletak pada keinginan kita untuk mendengarnya lagi atau tidak. Terkadang kau menikmati musik tertentu, tapi kalau orang-orang berkata, “Tidak, saya sudah memahaminya dengan baik; sudah cukup,” saya rasa artinya musik tersebut tidak bermakna.

Barangkali misteri memang unsur yang sangat penting dalam sebuah karya seni. Kalau sebuah karya tidak menawarkan sesuatu yang baru, yang memancing kita untuk maju lebih jauh, untuk apa kita mengkonsumsinya? Tentu, terkadang orang menikmati seni hanya demi hiburan, tanpa memikirkan apakah karya tersebut bermakna atau tidak, tetapi karya-karya yang meninggalkan bekas dalam diri kita pastilah karya-karya yang bermakna, yang mencetuskan emosi penikmatnya.

Untuk sementara, saya akan terus mendengarkan Ryuichi Sakamoto dan pianonya. Semoga kesenangan ini bertahan lama, karena saya tidak tahu mau berlari ke musik siapa lagi kalau sudah bosan dengannya!

Foto besar: Amazon

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s