Something that I wish would happen during this year’s Doctor Who Christmas Special

tumblr_oyzj4hJCT31wv1s9fo1_500

So, I wanted to draw some Whouffaldi but I couldn’t bear that Twelve is dying and Clara is just one heartbeat away from dying. Their end is near, and I just can’t bring myself to that just yet. It makes me want to cry.

Then I thought, hey, if I were this sad about Twelve leaving, how would Clara feel?

So I drew Clara as we last saw her. Maybe they met for the last time during Christmas. She knew her Doctor was going to change and he was going to leave without even remembering her. She turned away and cried. Of course she did. But then then she felt his hand holding hers as he called her name and told her not to cry.

“Smile for me. Go on, Clara Oswald. One last time…”

Advertisements

Doctor Who: Plague City (Book Review)

cityDoctor Who: Plague City, by Jonathan Morris
Hardcover, 250 pages. Published April 2017 by BBC Books.
Read the review on Goodreads.

Synopsis

The year is 1645, and Edinburgh is in the grip of the worst plague in its history. Nobody knows who will be the next to succumb – nobody except the Night Doctor, a masked figure that stalks the streets, seeking out those who will not live to see another day.

But death is not the end. The Doctor, Bill and Nardole discover that the living are being haunted by the recently departed – by ghosts that do not know they are dead. And there are other creatures lurking in the shadows, slithering, creeping creatures filled with an insatiable hunger.

The Doctor and his friends must face the terrifying secret of the Street of Sorrows – that something which has lain dormant for two hundred million years is due to destroy the entire city…

The Plague City is the 6th Doctor Who book and the 4th Twelfth Doctor novel I’ve read so far. I find this one to be the best among all. It’s well written, well-thought up and basically makes an interesting leisure read. Continue reading “Doctor Who: Plague City (Book Review)”

Chiaroscuro di Bulan September

Saya bukan tukang gambar yang cepat. Lamanya waktu yang saya habiskan mengerjakan SATU gambar bisa sampai berhari-hari, dengan satu harinya menghabiskan dua sampai tiga jam. Sebulan mungkin hanya bisa membuahkan satu gambar yang “jadi”.

Setelah berbulan-bulan, saya memutuskan untuk kembali menggambar. Saya membuat self portrait iseng-iseng. Dari dulu self portrait saya gak pernah sukses.

self_portrait_by_n0wm3-d375enk.jpg
Salah satu usaha membuat potret diri yang masih layak ditampilkan. Dibuat tahun 2011 dalam waktu 40 menit.

Tidak ada rencana untuk bikin gambar yang rapi. Sembari bersenang-senang, saya mencoba sebuah teknik gambar yang baru saya pelajari: chiaroscuro (baca: kiaroskuro).

Definisi lengkap chiaroscuro bisa dibaca di Wiki. Yang jelas (yang saya tangkep loh ya), prinsip chiaroscuro adalah naroh cahaya di atas warna. Kalau secara tradisional menggunakan kertas berwarna dan dikasih lighting putih, atau di cat minyak daerah yang mau digambarin dikasih warna gelap dulu sebagai dasar. Metode ini digunakan oleh maestro-maestro lukisan zaman Renaisans macam Caravaggio, Rembrandt, dll.

Öèôðîâàÿ ðåïðîäóêöèÿ íàõîäèòñÿ â èíòåðíåò-ìóçåå Gallerix.ru
David and Goliath, Caravaggio, 1607

Ajaibnya, dengan teknik ini, efek tiga dimensi permukaan objek jadi lebih tampak. Coba saja bandingkan dua gambar yang saya buat di bawah ini.

peter_capaldi_by_kaymikani-dbhhy9t
Peter Capaldi, Juli 2017
self_portrait_by_kaymikani-dbosmtv
Potret diri, September 2017 (Chiaroscuro)

Kelihatan bagaimana gambar kedua lebih menunjukkan permukaan tiga dimensi objek dengan pencahayaan. Gambar pertama terkesan lebih flat, meski sama-sama mempertimbangkan cahaya dan bayangan.

Setelah saya lihat-lihat lagi, chiaroscuro sepertinya lebih cocok untuk menonjolkan kontras antara yang terang dengan yang gelap pada gambar sehingga gambar terlihat lebih dramatis. Pada gambar pertama yang pembawaannya lebih lembut, chiaroscuro tidak perlu digunakan.

Pada gambar pertama, saya kurang menganalisis aspek tiga dimensi dari wajah subjek sehingga pewarnaan saya ya seadanya saja. Seharusnya bisa dibuat lebih halus dan beralur, jadi kontur wajahnya lebih terlihat.

 

The Healer and the Impossible

tumblr_ov6xybSuSh1wv1s9fo1_500

tumblr_ov8n7vtZQd1wv1s9fo2_1280

Someone commented on my drawing “The Healer and the Impossible” and it made me really happy to know that the piece actually made an impression. I always take great care in drawing faces because it tells so, so much about what the person is thinking and feeling and just what kind of person he/she is. I imagine The Hybrid as a sacred bond between the (Twelfth) Doctor and Clara, their souls connected, their hearts seared onto another by the universe. I used a lot of reference too because I thought it wouldn’t mean anything if I couldn’t make them resemble Peter and Jennna. So this may not look so complicated, but it’s a tough work.

Belajar Memahami Jiwa

Saya baru menyelesaikan 4 minggu rotasi di departemen ilmu kesehatan jiwa (psikiatri). Satu kata yang saya punya untuk ilmu yang satu ini: fascinating. Menakjubkan betapa manusia bisa mengalami deteriorasi yang dramatis karena gangguan di otak. Gangguan yang tidak tampak secara kasat mata pula. Lebih menakjubkan lagi ketika obat-obatan dan terapi lainnya bisa mengangkat manusia dari penderitaan itu., enderitaan akibat neraka yang muncul dari dalam pikirannya sendiri.

Continue reading “Belajar Memahami Jiwa”