Compositions in the Style of Jazz

“I was never a jazz musician. I never tried to be a real jazz pianist, but I had to do it because of the composing. I’m not interested in improvisation – and what is a jazz musician without improvisation? All my improvisation is written, of course, and they became much better; it improved them.”

– Nikolai Kapustin (1937–now)

Official Website

 

Advertisements

Finale

“A finale is the last movement of a sonata, symphony, or concerto; the ending of a piece of non-vocal classical music which has several movements; or, a prolonged final sequence at the end of an act of an opera or work of musical theatre.”
– Wikipedia

Dengan berat hati aku meninggalkan pelajaran piano dan tempat aku belajar piano. Tempat yang kusangka oase bagi pikiranku, tapi ternyata menghancurkan hatiku. Aku takkan menjelaskan kenapa, karena ini adalah persoalan pribadi antara aku dan orang itu. Yang bisa kubilang hanya ini: aku kecewa. Berat. Rasanya seperti dikhianati. Aku ditipu habis-habisan.

Tapi aku belajar banyak. Dalam dua bulan ini, aku belajar bagaimana memoles keterampilan ini sesempurna mungkin. Aku berlatih sampai dua jam dalam satu hari, setiap hari, sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Aku berdiskusi tentang interpretasi dan lagu-lagu yang telah kudengarkan. Pengalaman ini membesarkan hatiku soal kemampuanku karena aku telah lama dirundung rasa rendah diri. Aku memaksimalkan apa yang aku miliki, dan ketika berhasil, rasanya puas sekali. Dan ini adalah piano yang sedang aku bicarakan. Piano klasik!

Kegiatan ini dari awal memang hanya untuk mengisi waktu kosong. Aku sudah berencana berhenti di bulan Desember, tapi saat itu kupikir aku akan kembali lagi bila ingin belajar lagi. Kakakku bilang, “Buat apa? Kan sudah pintar.” Tapi keahlian bermain piano adalah sebuah tantangan yang menggiurkan buatku. Piano masih membuatku penasaran; sampai sejauh apa aku bisa bermain? Mungkinkah aku bisa memainkan karya-karya komponis yang aku idolakan? Jawaban itu ingin kukejar sampai akhir. Aku mau tahu ujungnya di mana. Bila jawabannya tidak terlalu menyenangkan pun aku tetap ingin tahu.

Sayangnya, semua itu berakhir di sini. Entah sampai kapan lagi aku berhenti. Entah kapan aku diizinkan kembali oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Because God knows, I’ve always wanted to learn the piano properly since high school. Namun Tuhan selalu saja bisa mengalihkanku pada hal-hal yang lebih penting. Selalu. Mungkin kau akan menganggapku naif dengan mempercayai takdir. Tapi percayalah, ketika kau berada pada posisiku, kau akan percaya bahwa Tuhan itu ada dan memang mendengar. Dan aku menerima apa-apa yang terjadi sebagai petunjuk.

Tadi aku hampir belajar satu sonata Mozart dari awal sampai akhir. Aku masih penasaran bagaimana aku bisa memainkannya. Namun aku memaksakan diriku untuk tidak melihat lagi ke belakang.

Begitulah akhir cerita ini. Satu kejadian, dan aku pergi. Seolah tempat yang pernah kucintaui itu hanya sebuah distraksi sementara.

*Setelah mempelajari Gavotte dari French Suite No.5 yang ku-post sebelumnya, aku juga memainkan bagian Gavotte (bagian pertamanya saja) dari English Suite No.2 dan Scherzo dari Partita No.3 BWV 827. Yang Scherzo itu bikin aku frustrasi, sungguh. Ujung-ujungnya aku bisa memainkannya dengan cukup baik tapi usaha yang kukerahkan benar-benar sesuatu. Oh, dan Barcarolle dari The Seasons-nya Tchaikovsky sampai akhir juga tetapi belum selesai.

Something that I wish would happen during this year’s Doctor Who Christmas Special

tumblr_oyzj4hJCT31wv1s9fo1_500

So, I wanted to draw some Whouffaldi but I couldn’t bear that Twelve is dying and Clara is just one heartbeat away from dying. Their end is near, and I just can’t bring myself to that just yet. It makes me want to cry.

Then I thought, hey, if I were this sad about Twelve leaving, how would Clara feel?

So I drew Clara as we last saw her. Maybe they met for the last time during Christmas. She knew her Doctor was going to change and he was going to leave without even remembering her. She turned away and cried. Of course she did. But then then she felt his hand holding hers as he called her name and told her not to cry.

“Smile for me. Go on, Clara Oswald. One last time…”

Gavotte

Perjalanan belajar main piano saya penuh dengan lika-liku. Saya senang sekali dengan musik klasik, tapi bertahun-tahun belajar dengan guru yang kurang mumpuni sehingga perkembangan saya terlambat. Bayangkan, 5 tahun les piano dan saya tidak pernah diajarkan maupun diberitahu bahwa lagu populer yang dimulai dengan E-D#-E-D#-E-B-D-C-A itu berjudul Für Elise.

Kebetulan sekarang saya punya banyak waktu kosong, jadi saya mencari-cari lagi tempat les yang kira-kira fokus mengajarkan main musik klasik. Dan akhirnya saya sampai pada suatu tempat kursus yang didirikan salah satu pianis konser Indonesia.

Di hari pertama saya bawa 1 (satu) saja buku piano yang sering saya mainkan di rumah, yaitu buku kumpulan lagu piano populer dari bonus pembelian Yamaha Clavinova. Buku berumur 7 tahun yang saya dapat dari teman saya ketika saya SMA (Sungguh teman saya teman yang berjasa). Guru saya yang baru memilihkan satu lagu untuk saya mainkan: Gavotte dari French Suite no.5 karangan Bach (yang Johann Sebastian ya, bukan yang lain). Yang satu lagi adalah pilihan saya, Barcarolle dari The Seasons-nya Tchaikovsky.

Terakhir kali saya belajar main piano mungkin 3-4 tahun yang lalu, jadi saya banyak lupa tentang apa-apa yang saya pelajari dulu. Namun, meski seolah belajar dari awal lagi, kali ini saya lebih termotivasi untuk berlatih. Jarang-jarang punya kesempatan belajar main musik dengan serius. Guru saya yang sekarang terbuka dengan diskusi, mau menjawab pertanyaan apa saja, dan selalu peka (gregetan) kalau ada satu tuts saja yang saya salah tekan. Saya jadi merasa tertantang untuk bermain serapi mungkin.

Berikutnya saya diberi tugas memainkan bagian Gavotte dari English Suite No.3. Barcarolle masih belum selesai, dan saya merasa sangat tersiksa memainkan lagu itu. Entah memang saya bukan orang yang romantis atau bagaimana. Menurut saya lagu Romantik butuh kontrol yang sangat baik (dinamika dan pedal adalah dua hal yang sangat penting) dan perlu imajinasi yang terus jalan ketika bermain. Mikir banget. Saya lebih senang dengan Bach. Tapi saya masih mau mencoba karya Romantik yang lain, mungkin kebetulan saya memang kurang suka Barcarolle. Saya juga mau memoles teknik agar kontrol saya lebih baik. Rencananya memakai buku Czerny op. 299 dan Hanon.

Sebagai bentuk dokumentasi, berikut saya tampilkan permainan piano saya setelah tiga kali menjalani kursus.

Doctor Who: Plague City (Book Review)

cityDoctor Who: Plague City, by Jonathan Morris
Hardcover, 250 pages. Published April 2017 by BBC Books.
Read the review on Goodreads.

Synopsis

The year is 1645, and Edinburgh is in the grip of the worst plague in its history. Nobody knows who will be the next to succumb – nobody except the Night Doctor, a masked figure that stalks the streets, seeking out those who will not live to see another day.

But death is not the end. The Doctor, Bill and Nardole discover that the living are being haunted by the recently departed – by ghosts that do not know they are dead. And there are other creatures lurking in the shadows, slithering, creeping creatures filled with an insatiable hunger.

The Doctor and his friends must face the terrifying secret of the Street of Sorrows – that something which has lain dormant for two hundred million years is due to destroy the entire city…

The Plague City is the 6th Doctor Who book and the 4th Twelfth Doctor novel I’ve read so far. I find this one to be the best among all. It’s well written, well-thought up and basically makes an interesting leisure read.

Continue reading “Doctor Who: Plague City (Book Review)”